SAPAAN SEDERHANA ARINA ZULIANY on July 25th, 2012

Anatolia bersiap untuk menghadapi perang. Strategi pun disusun. Raja Alfonso berdiskusi dengan panglima kepercayaannya, Zimri, yang diam-diam menaruh hati pada puteri sang raja, Arlina. Kecerdasan perasaan dan intelektualitas logika seorang perempuan pun ikut mewarna dalam strategi perang yang disusun. Akankah perjuangan Anatolia menegakkan panjinya di Padang Soneti berbuah manis?

Bagian 3

Pasukan Anatolia sudah dihimpun di depan gerbang Utara kerajaan. Para peri dan manusia sudah siap dengan segala perlengkapan perangnya. Baju baja hijau yang mereka kenakan memantulkan pancaran sinar matahari yang baru saja muncul dari balik kepungan awan shubuh. Langit terlihat begitu cerah. Sementara, tanah di bawah kaki mereka sangat basah dan becek. Walaupun keadaan alam demikian, semangat juang mereka memancar begitu besar dan kuat bagaikan ombak besar yang siap menghantam batu karang.

Alfonso berdiri di depan pasukannya sambil menunggangi kuda perang yang berbaju besi. Dia terlihat begitu gagah dan berwibawa. Di depan para prajuritnya itu, ia mondar-mandir meneriakkan kalimat pembangkit semangat yang berapi-api. Tangannya mengacung setiap kali mengucapkan kata-kata yang membakar semangat prajuritnya. Matanya bagai memancarkan api semangat yang berkobar hebat.

“Hari ini! Hari ini kita akan menaklukkan Raja Hamun. Raja Kerajaan Kĕsanh! Inilah balasan yang akan dia terima! Inilah hukuman yang patut dijatuhkan kepadanya karena sudah bersikap kurang ajar! Kurang ajar memperlakukan utusan kerajaan lain. Kurang ajar menantang sebuah kerajaan dengan cara yang tidak patut dilakukan seorang raja! Kita akan menghukumnya dan menyadarkan dirinya yang sudah kelewatan! Membuat dia jera dan malu di hadapan kerajaan-kerajaan lain! Malu di hadapan Tuhannya!!”, ujar Raja Alfonso sambil mengacungkan telunjuknya ke langit, disusul teriakan semangat prajuritnya yang gagah berani. Teriakan membahana di padang rumput itu, memecah keheningan pagi.

“Majulah, para pahlawan Anatolia! Janganlah kalian takut kepada Hamun atau kepada kematian! Tidak ada gunanya kalian takut kepada mereka. Kalian pasti mendapat balasan yang sama baiknya dari sisi Tuhan. Karena kalian sekarang, tidak berjuang untuk dunia! Tapi, sekarang kalian berjuang hanya demi Dia Yang Maha Mulia! Maka janganlah kalian takut. Niscaya Dia akan selalu memberi naungan kepada siapapun yang Dia kehendaki. Hidup Anatolia! Hidup Anatolia!!!”, teriak Alfonso.

“Hidup Anatolia…!!!”, sambut para prajurit Anatolia dengan gegap gempita.

Mereka tampak begitu antusias untuk berperang. Panji-panji bulan sabit perak diangkat tinggi, menampakkan kekuatan yang dimiliki Anatolia. Raja Alfonso memerintahkan pasukannya untuk memulai perjananan ke Utara, menuju Padang Soneti. Lalu, serempak seluruh pasukan berderap menjemput takdirnya.

Tidak banyak rintangan yang menghalangi langkah mereka. Hanya beberapa sungai yang melintang dan sebuah hutan belantara yang menjadi pembatas Anatolia dengan Padang Soneti. Setelah melewati sungai-sungai dan hutan itu, pasukan Anatolia sudah bisa menginjakkan kaki mereka di sebuah tanah lapang yang subur. Udara yang tadinya lembap, kini telah bertukar menjadi udara segar yang menyejukkan paru-paru. Permadani hijau ini indah dihiasi bukit-bukit kecil di beberapa tempat.

Alfonso memerintahkan para peri untuk memisahkan diri dari barisan pasukan utama dan pergi ke bukit yang cukup besar di sebelah kanan. Di sana mereka akan memberikan tembakan pendukung. Alfonso juga menyuruh para pemegang crossbow untuk berbaris di bagian terdepan. Semuanya langsung melaksanakan perintah sang raja. Informasi yang sangat jelas dari sang raja sepertinya tidak membutuhkan pertanyaan lagi. Pasukan para peri mulai memisah dan berjalan menuju bukit yang dimaksud. Sementara itu, para crossbow pun melangkah maju ke barisan depan.

Tak lama kemudian, di seberang pasukan Anatolia yang hijau, pasukan Kĕsanh berderap maju dengan hawa menantang yang begitu pekat. Baju baja berat berwarna merah marun yang selalu dipakai dalam setiap peperangan yang dilakoni Kĕsanh menunjukkan bahwa mereka benar-benar menantang Anatolia. Di depan lautan manusia itu, berjalan Hamun yang menunggangi kuda perang hitam legamnya. Penampilannya begitu mencolok dengan helm merah yang dihiasi tiga tanduk hitam, kapak besar bermata duanya yang memungkinkan ia menyerang secara brutal, dan sebuah perisai lebar yang memungkinkannya untuk bertahan sambil melukai musuhnya. Di sebelah kanan Hamun, berjalan Arya, jenderal kepercayaan milik kerajaan Kĕsanh. Penampilannya begitu gagah dengan selempang merah yang melingkupi dada kanannya. Selempang itu dipenuhi oleh gambar dari lambang kerajaan Kĕsanh yang berupa burung merak merah. Arya menggenggam senjata andalannya di tangan kiri. Sebuah tombak panjang berkepala palu. Siap meremukkan tulang-tulang musuhnya.

Seorang prajurit berlari menghampiri Raja Alfonso yang masih berada di atas kuda. Lalu, ia membungkuk dalam memberi hormat kepada rajanya.

“Lapor, Yang Mulia. Seluruh peri pemanah sudah berada di tempat, kami menunggu perintah.”, ujar panglima itu.

“Bagus. Katakan kepada mereka agar menembakkan panah peledak jika pasukan mammoth sudah mulai bergerak.”, titah sang raja.

“Baik, Rajaku.”, balasnya takzim. Lalu, prajurit itu pergi menuju bukit tempat para peri menunggu.

Pasukan Kĕsanh berhenti di jarak yang cukup jauh. Tapi, Alfonso bisa melihat berapa besar jumlah dan kekuatan mereka dengan jelas. Alfonso terus menatap Hamun, mengawasi setiap gerak-geriknya. Namun, raja Kĕsanh itu hanya tetap diam dan tidak memperlihatkan aba-aba atau satu jebakan pun. Dia hanya terus menatap pasukan Anatolia dengan pandangan benci dan tidak lebih dari itu. Keadaan bertahan demikian, hingga tak berapa lama, sebatang anak panah Kĕsanh melayang tepat ke arah Alfonso. Dengan mudah Alfonso menangkapnya tepat di depan lehernya. Panah itu dililit secarik kertas. Alfonso menarik dan membacanya. Isinya adalah suatu ancaman tidak bermoral yang menuntut seluruh wilayah kekuasaan kerajaan Anatolia. Ini sungguh kelewatan. Kĕsanh sengaja memprovokasi Anatolia.  Alfonso mencoba untuk tetap menahan amarahnya dan menunggu.

Sangkakala perang milik Kĕsanh akhirnya dibunyikan. Merupakan pertanda kematian yang akan menghampiri musuhnya. Arya memimpin gelombang pertama. Dia berteriak sangat kencang hingga seluruh pasukan Anatolia bisa mendengarnya. Ratusan manusia berlari kencang dengan hasrat membunuh yang sangat besar. Derap langkah mereka menimbulkan suara gemuruh dan getaran di Padang Soneti. Alfonso mengangkat tangan kanannya sebagai aba-aba untuk para crossbow. Para crossbow itu langsung mengisi busurnya dengan lima batang anak panah sekaligus. Lalu, Alfonso mengacungkan tangan sambil mengayunkannya ke depan.

“Tembak, demi Dia Yang Maha Mulia!”, Alfonso memerintahkan para crossbow. Teriakan itu dijawab dengan ribuan panah yang melayang melesat ke angkasa, menuju jantung pasukan Kĕsanh.

Ringisan, teriakan, dan raungan terus terdengar ketika panah-panah itu menembus kulit tentara Kĕsanh. Darah membuncah menyirami rumput Padang Soneti yang menghijau. Beberapa prajurit Kĕsanh jatuh tersungkur menemui ajalnya. Namun, ratusan yang lain terus menggempur. Arya terus memutar tombaknya dengan kencang ketika panah-panah itu ingin mendarat di tubuhnya. Teriakan demi teriakan terus terdengar. Kali ini dengan amukan yang semakin luar biasa.

Alfonso mengeluarkan pedangnya dari sarungan. Mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala. Membiarkannya memantulkan cahaya matahari pagi dan berkilau keemasan. Seluruh pasukan mempersiapkan diri untuk maju menyongsong pasukan Kĕsanh.

“Seluruh pasukan, maju!!!”, teriak Alfonso sembari memacu kudanya ke depan diikuti oleh para jenderal dan ribuan prajurit di belakangnya. Seluruh senjata mereka teracung bersama teriakan perang yang membahana.

Kedua pasukan ini bertemu dan dimulailah perang yang sebenarnya. Teriakan perang yang tadinya perkasa digantikan oleh pekikan dan raungan kematian yang memilukan. Darah-darah bercipratan disusul satu per satu manusia jatuh tersungkur tak bernyawa. Dentingan besi dengan baja bersahutan tak beraturan. Debu-debu kecil mulai mengepul ke udara. Menyambut cucuran darah segar yang keluar dari tubuh yang disayat. Pasukan Kĕsanh memang kalah jumlah, tapi mereka tetap melawan dengan keyakinan dan kemenangan.

Alfonso turun dari kuda perkasanya. Menebas dan memukul setiap musuh yang ada di hadapannya dengan gagah berani. Memamerkan keahlian dan ketangkasan ilmu beladirinya yang mumpuni walau usianya bisa dikatakan tua. Dia terus maju menebas jatuh prajurit berbaju baja merak merah itu. Hingga akhirnya, dia menemukan Arya sang Panglima Kĕsanh bersama dua shervan yang tengah menjatuhkan seorang prajurit Anatolia. Arya memukul kepala si prajurit hingga remuk, disusul dengan sihir dari shervan yang membuat prajurit itu terpental jauh dan kehilangan nyawanya.

Alfonso melompat dan berhasil menerjang satu shervan dengan tusukan dalam pada leher. Darah menyembur kencang dari leher shervan itu ketika Alfonso mencabut pedangnya. Melekat pada satu sisi baju Alfonso dan mengering. Arya dan satu shervan yang lain menyadari kehadiran Alfonso. Lalu mereka memfokuskan perhatian kepada Raja Anatolia itu.

Arya menyeringai.

“Akhirnya aku mendapatkanmu, Raja dan Anatolia. Bersiaplah untuk menemui Tuhanmu yang konyol!”, ujar Arya merendahkan. Ia langsung melayangkan tombak palunya ke kepala Alfonso. Tapi, Alfonso menghindarinya dengan gesit. Terlalu gesit untuk orang seumuran beliau. Serangan kedua datang dari shervan. Dia membuat bola api dan melemparkannya ke tubuh Alfonso. Namun, Alfonso menebas api itu hingga pecah dan menghilang. Alfonso menatap kedua lawannya dengan senyuman tersungging di bibirnya.

“Sepertinya dua lawan satu cukup seimbang bagiku. Meskipun usiaku bisa dikatakan sudah tua.”, lalu ia tertawa. Mengejek.

“Kau akan menyesali ucapanmu tadi!”, Arya menyembur. Ia melayangkan senjatanya ke ubun-ubun Alfonso. Tapi, dengan sigap Alfonso menepisnya lalu memukul perut Arya dua kali diakhiri tendangan keras di wajah Arya hingga Arya terjengkang. Alfonso benar-benar melupakan shervan yang juga sedang ia hadapi. Sehingga ia tidak menyadari bahwa shervan itu sedang melayangkan tangan listrik ke lehernya. Ketika Alfonso mengetahuinya, tiba-tiba….

***

Bersambung.

Salam,

Hamzah Ar-Rayyan

SAPAAN SEDERHANA ARINA ZULIANY on July 25th, 2012

Anatolia ditantang oleh Kĕsanh. Utusan Raja Alfonso, panglima terhormat kerajaan Anatolia yang dikirim ke Kĕsanh, ternyata pulang dengan kepala terpenggal. Kemarahan Raja Alfonso memuncak. Tak ayal, Raja Alfonso tanpa ragu menjawab penghinaan Raja Hamun dengan pernyataan perang. Besok, pagi-pagi sekali, dua kerajaan legendaris ini akan bertemu di gelanggang pertempuran: Padang Soneti.

Bagian 2

 Pagi ini hujan turun deras sekali. Hawa dingin yang berhembus masuk ke setiap lorong dan ruangan istana membuat hembusan napas mengeluarkan uap air. Raja Alfonso sudah duduk di ruang kerjanya. Tubuhnya dilingkupi oleh mantel bulu yang tebal. Di hadapannya berdiri seorang pemuda yang berpostur tinggi dan tegap. Pemuda itu mengenakan baju baja perak yang dilengkapi dengan jubah tebal di di luarnya. Ia adalah jenderal kepercayaan sekaligus penasihat pribadi Alfonso. Namanya Zimri. Dia diamanatkan dua posisi terhormat itu sekaligus karena kecerdasan otaknya dan pemikirannya yang cepat. Sejak kecil, ia dikirim bersama tiga anak lainnya yang salah satunya adalah puteri kandung Alfonso, Arlina, ke perguruan Berleti. Di sana mereka diajari berbagai ilmu. Mulai dari ilmu akademik hingga ilmu beladiri tingkat tinggi. Kini, keempat anak itu telah tumbuh menjadi pemuda-pemudi yang jenius. Hanya Zimri-lah yang memilih untuk menjadi seorang prajurit. Dia tumbuh menjadi pemuda yang perkasa dan kuat. Kemenangan yang diraih Anatolia, sebagian besar berkat strategi dari Zimri yang sangat mengagumkan.

Raja Alfonso memanggil Zimri ke ruangannya dengan tujuan untuk merancang strategi perang yang akan digunakan untuk melawan pasukan mammoth milik kerajaan Kĕsanh. Berhubung Anatolia belum pernah menghadapi pasukan Kĕsanh, Zimri pun mengalami sedikit kesulitan untuk memberi usulan. Suasana sempat sunyi beberapa saat, hanya bunyi rintik air yang ditangkap oleh telinga dua orang itu. Namun, Zimri langsung memecah keheningan.

“Bagaimana kalau para peri[1] pemanah kita tempatkan di bukit kecil arah Timur Padang Soneti. Mereka akan menggunakan panah sihir mereka untuk menjatuhkan pasukan mammoth dan memberi tembakan pendukung…”, usul Zimri sebelum akhirnya ia diam sejenak.

“…dan para crossbow[2] akan kita bawa ke medan pertempuran di barisan terdepan.”, Zimri melanjutkan. Alfonso manggut-manggut, mempertimbangkan kalimat Zimri dengan matang.

“Baiklah. Katakan kepada seluruh pasukan dan armada, kita akan berangkat ke Padang Soneti ketika matahari sudah terlihat.’’, tanggap Alfonso. Zimri tersenyum puas lalu memukulkan tangannya ke bahu kiri sambil membungkuk tanda hormat.

“Siap, Yang Mulia.”

Lalu, ia membalikkan tubuh berniat untuk pergi meninggalkan ruangan. Namun, tiba-tiba suara pintu yang diketuk memaksanya untuk tetap berdiri di tempat.

“Ayah? Bolehkan aku masuk?”, suara lembut seorang perempuan terdengar belakang pintu.

“Arlina, masuklah.”, sahut sang raja. Lalu pintu itupun terbuka. Menunjukkan sosok Arlina yang begitu menawan mengenakan baju panjang berwarna hijau dengan bertatahkan berlian yang dijahit di bagian pinggang. Ditambah jahitan lambang kerajaan Anatolia yang berupa bulan sabit berwarna perak di dada kanan. Menunjukkan dengan jelas bahwa dirinya adalah orang penting bagi kerajaan Anatolia.

Zimri langsung membungkuk dalam untuk memberi hormat ketika sang putri berlalu di hadapannya.

“Putri Arlina.”, sapanya formal.

Arlina tersenyum dan membalas dengan anggukan yang anggun melihat sikap sang jenderal. Ketika melihat senyuman manis Arlina, wajah Zimri terlihat sedikit bersemu. Ya, memang Zimri jatuh cinta pada Arlina sejak mereka sama-sama menuntut ilmu di Perguruan Berleti. Arlina pun sepertinya juga begitu, dia sangat mengagumi sosok Zimri yang terkesan tegas dan cekatan dalam segala hal. Walaupun begitu, seringkali tingkah Zimri mengundang tawa dan mampu menghibur kesedihan yang dirasakan Arlina ketika ditinggal mati ibunya, sang Ibu Suri.

Arlina berjalan menuju sang ayah. Raja Alfonso menyambutnya dengan senyuman. Ketika Arlina sampai di seberang meja, Raja Alfonso mempersilahkannya duduk.

“Ada apa, Arlina? Apa yang ingin kau katakan?”

“Kita kekurangan tenaga medis, Ayah. Jumlah mereka terlalu sedikit untuk menangani cidera para prajurit nantinya. Bisa-bisa dalam peperangan ini, kita akan banyak kehilangan prajurit. Walaupun Anatolia menang, korban akan banyak berjatuhan. Baik dari perang itu sendiri maupun luka infeksi karena tidak segera ditangani.”, jelas Arlina panjang lebar.

“Hm… Bagaimana kalau minta tambahan tenaga medis kepada para shervan[3]? Mungkin kekuatan sihirnya bisa membantu.”, usul Alfonso. Arlina menimbang-nimbang usul sang ayah.

“Akan kucoba. Mudah-mudahan mereka mau memberi bantuan.”, Arlina menutup diskusi singkat ini. “Aku pergi dulu, Ayah.”, katanya sembari bangkit dari tempat duduk berlapis emas dan melangkah menuju pintu.

“Aku duluan ya, Jenderal.’’, sambung Arlina ketika berlalu di depan Zimri.

Zimri membalas dengan anggukan takzim. Ketika Arlina sudah menghilang di balik pintu, Zimri langsung meminta izin untuk keluar kepada Raja Alfonso yang masih duduk terdiam di kursinya. Jemari Alfonso bersilang menopang dagunya, tatapannya penuh dengan misteri. Hari ini, perang akbar akan segera berkobar di tanah Padang Soneti. Kerajaan Anatolia akan menuntut keadilan di hadapan Tuhan atas kekejaman Kerajaan Kĕsanh yang keterlaluan.

***

Bersambung…


[1]  Mirip manusia, berkulit biru, telinga runcing ke belakang. Mereka bisa melakukan sihir pada panah-panah mereka.

[2]  Pasukan pemanah kerajaan.

[3]  Lebih mirip dukun. Mereka menyembuhkan penyakit dengan sihir-sihirnya.

Salam,

Hamzah Ar-Rayyan. 

Tentang Penulis:

Hamzah adalah penulis muda berusia 14 tahun. Terlahir pada tanggal 17 Januari 1998 di Kota Padang. Cerita ini ditulis Hamzah di tengah kesibukannya menuntut ilmu di Pesantren Modern Ar-Risalah, di atas sebuah buku tulis yang digoresnya dengan pensil sederhana. Selain menulis dan sekolah, saat ini Hamzah juga aktif menjadi tim Olimpiade Sains dan klub basket asrama.

SAPAAN SEDERHANA ARINA ZULIANY on July 24th, 2012

Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Apa kabar, Sahabat? Lama ngga mendengar kabarmu di sana. Semoga kesibukan dan ikhtiarmu membuahkan berkah yang cemerlang. Aamiin. Arin tergerak untuk menulis ini karena telepon darimu kemaren, yang menanyakan tentang daya tampung dan peminat IPB jalur SNMPN. Perbincangan itu menyisakan pemikiran yang mendalam tentang almamaterku di sini, dan juga adik-adikku harapan Ranah Minang di sana. Rasanya aku kembali ke situasi empat tahun yang lalu, waktu kita sama-sama berikhtiar untuk mendapat tempat duduk selama beberapa tahun di perguruan tinggi. Sejujurnya, waktu itu hatiku mendua. Ketika teman-teman di kiri kanan depan belakang sibuk merapal cita-citanya untuk masuk ke perguruan tinggi terkenal seperti UI, ITB, UGM, dan sejenisnya… juga heboh dengan passing grade jurusan anu dan itu yang begitu padat dijejali peminat, aku disodori formulir PMDK alias USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) oleh guru BK, yang notabene jurusan-jurusannnya terdengar begitu asing di telinga.

SEBUAH KEPUTUSAN BESAR

“Pertanian? Mau jadi apa?? Petani? Ohh,, tidak bisa!”.

Itulah kalimat pertama yang kulontarkan saat keberadaan formulir itu sudah menjadi “perbincangan saat makan malam” di rumah. Aku berniat menyimpan formulir itu. Tidak perlu diisi. Tidak perlu dikirim. Sehingga, aku tidak perlu jadi petani. Aku mau jadi psikolog. Jadi dokter atau jadi duta besar. Kalau nggak, setidaknya aku mau kuliah di ITB. Meski nggak suka itung-itungan, yang penting bergengsi. Begitulah, kala itu pemikiran kita para calon lulusan SMA dijejali dengan angan-angan masuk perguruan tinggi ternama karena gengsinya. Nama besarnya. Banyak peminatnya. Passing grade-nya. Terkenal jurusannya. Banyak alumninya…, dan seterusnya.

Namun, Allah SWT berkehendak lain. Papa menghubungi teman beliau sesama dosen di IPB pada saat yang tepat. Papa bertanya tentang spesifikasi jurusan-jurusan di IPB yang namanya unik-unik, lain dari yang lain, dan pastinya ngga ada di universitas lain. Tentunya, pertanyaan utama papa adalah “Bagaimana prospek ke depannya? Lapangan kerjanya? Akreditasinya?”. Perbincangan itu membuahkan hasil. Teman papa itu memberikan rekomendasi Mayor (jurusan) Ilmu Keluarga dan Konsumen, Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat, Ilmu Gizi, Arsitektur Lansekap, Konsevasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, dan Kedokteran Hewan.

Berbekal informasi yang singkat namun padat tentang jurusan-jurusan itu, papa kemudian menjelaskan satu per satu di hadapanku. Akhirnya, aku terbujuk dan mulai tertarik pada Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) serta Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (SKPM). Pertimbanganku saat itu adalah IKK ini nuansa psikologinya sangat kental, cocok dengan minatku. Selebihnya, ada aroma “ilmu konsumen” juga, otomatis setidaknya ada juga mendalami ilmu ekonomi-manajemen di dalamnya. Bagiku jurusan ini sangat unik dan sangat menarik. Seperti es krim double flavour. Lalu yang lebih menantang lagi, jurusan ini baru berdiri selama 5 tahun. Artinya? Artinya bidang keilmuan ini sangat prospektif. Aku ingat persis, papa bilang gini:

“Wah, ini nanti bisa jadi the next Kak Seto, Dek..”

“Apa iya, Pa? Tapi Pa, kan nggak terkenal.. “

“Memilih jurusan bukan masalah terkenal atau tidaknya, Dek. Tapi masalah expertise alias bidang keahlian. Coba Adek bayangkan, sepuluh sampai lima belas tahun ke depan.. Di saat orang lain bersaing dengan bidang keahlian yang sambuah, Adek muncul dengan segelintir alumni dari IKK yang punya sesuatu yang berbeda. Siapa tahu, Allah berkehendak kalian lulusan yang segelintir itu malah yang dicari-cari? Maknanya, dengan memiliki bidang keahlian yang unik dan spesifik, persaingan semakin mengecil dan lapangan kerja semakin meluas. Bahkan, Adek bisa bekerja independen sebagai konsultan. Berpikirlah jangka panjang. Papa yakin, meskipun hari ini orang-orang ngga kenal sama Ilmu Keluarga dan Konsumen, insya Allah untuk beberapa tahun ke depan prospeknya semakin bagus”.

Pernyataan papa itulah, yang akhirnya menguatkan langkahku untuk mengisi dan menuliskan “Ilmu Keluarga dan Konsumen” di kolom pilihan pertama, dan “Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat” di pilihan kedua formulir USMI-ku. Komunikasi juga terdengar menarik bagiku, meski tidak membuatku lebih penasaran dibandingkan dengan IKK.

Singkat cerita, Alhamdulillah dari belasan orang pelamar USMI dari smanten, 3 diantaranya lulus dan mendapatkan Nomor Induk Mahasiswa sebelum ketiganya ikut UAN. Aku lulus di pilihan pertama. J Masa-masa indah nan krusial itupun terlalui dengan baik atas izin dan ma’rifat dari Allah ‘Azza wa Jalla. Subhanallah. Sebuah jalan terbuka untukku. Aku pun siap melarung diri ke samudera ilmu di tanah Sunda.

TERSESAT DI JALAN YANG BENAR

Pernah dengar ungkapan itu, Sahabat?

Aku pertama kali mendengarnya saat pidato penyambutan kami, mahasiswa baru, di gedung auditorium Graha Widya Wisuda, IPB. Dosen itu seakan sudah hafal tabiat mahasiswa baru IPB yang mayoritas memang buta terhadap apa yang akan mereka hadapi di dunia baru mereka. Saat pidato penyambutan, dengan penuh kharisma, beliau bilang gini:

“Selamat datang, anak-anakku, di kampus rakyat. Kampus hijau nan asri. Bumi IPB. Ada yang bilang, IPB itu Institut Perbankan Bogor, ada juga yang bilang Institut Pleksibel Banget, ada yang sebut Institut Pesantren Bogor, hingga Institut Pembesar Betis!”

Almamater Kami

Tiga ribuan tawa sontak memenuhi ruangan auditorium yang luas dan megah itu. Lalu, beliau melanjutkan.

“Sebagian besar dari kalian mungkin merasa asing dengan nama-nama jurusan di sini. Sebagian lain mungkin merasa tersesat.. Coba acungkan tangan, siapa yang merasa tersesat?? (lalu beberapa tangan mengacung…). Anakku, IPB adalah kampus yang terkenal sebagai perguruan tinggi riset. IPB telah mencetak para ilmuwan handal yang teruji. Kita banyak berprestasi di berbagai bidang. Temukanlah warnamu di sini. Hitam, putih, hijau, kuning, merah, biru.. Silahkan pilih! Kembangkanlah soft skill-mu. Carilah siapa dirimu. Lesatkan potensimu! Jangan khawatir tersesat, KARENA KALIAN TERSESAT DI JALAN YANG BENAR. InsyaAllah”.

Mendengar itu, hati dan mataku basah oleh tangis dan syukur, seluruh ruangan bergemuruh karena tepuk tangan yang membahana menyeruak langit Darmaga. Tersesat di jalan yang benar? Boleh jadi, itu benar…

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? (QS: Ar-Rahmaan)

JATUH TERSESAT HINGGA JATUH CINTA

Susah payah aku meyakinkan diri untuk tidak ikut-ikutan merasa tersesat. Toh, ini adalah pilihan pertamaku. Namun, semangatku diuji di awal-awal aku menjadi bagian dari jurusan ini. Aku yang terbiasa berada di zona aman dan nyaman, tiba-tiba dihadapkan dengan situasi “dipertanyakan” dan hampir mendekati “diragukan”, bahkan hampir nyerempet “diremehkan” karena jurusanku yang tidak dikenal orang… Miris memang. Aku sempat merasa down dan berpikir untuk mencoba SPMB. Aku hampir jatuh tersesat. Apalagi, di tahun pertamaku dulu, kami masih dijejali pelajaran SMA IPA dan IPS dalam kurikulum Tingkat Persiapan Bersama (TPB). Di masa itu, kami yang datang dari Sabang sampai Merauke ini digodog dalam sebuah proses standardisasi sehingga yang tersisa nantinya adalah mahasiswa dengan kompetensi yang benar-benar sesuai standar IPB. Sederhananya, kami seperti duduk di kelas 13 SMA dan seakan dijebloskan dalam suatu ‘program pemerataan’.

Di masa itu aku sungguh merasa tersesat. Tiba-tiba harus belajar kalkulus, matematika, fisika, kimia, dan biologi lagi. Belum lagi ada bahasa Indonesia, sosiologi, ekonomi umum, dan lain-lain. Bagiku, hasrat untuk mendalami ilmu psikologi belum terpuaskan. Ditambah lagi sikap orang-orang yang tidak terlalu respek dengan jurusanku. Akhirnya, aku galau. Aku berniat menceritakannya ke papa.

Panggilan telepon ke papa sudah tersambung saat tiba-tiba aku merasa sangat bersalah. Aku merasa aku begitu kufur nikmat dan tidak tahu cara berterima kasih. Terbayang pengorbanan mama, papa, oma, opa, tanteku Sitan, saudara-saudaraku Bang Fikri dan Deni untuk membuatku menginjak tanah Bogor ini.. Bayangan mereka yang tersenyum penuh harap dan senantiasa berdo’a seakan diputar ulang terus dan terus di pikiranku. Aku menangis. Aku menyesal. Tak pantas aku berniat untuk meninggalkan IPB yang telah diperjuangkan tidak hanya olehku, tapi oleh segenap keluargaku dengan sepenuh hati. Aku diam tertunduk. Aku tersadar, amanah untuk menjadi seorang sarjana bukanlah cita-cita pribadi, tapi ia adalah hajat penting dalam keluarga, berkaitan dengan amanah publik. Tak boleh aku sia-siakan. Aku terus berkutat dengan pikiranku hingga sejurus kemudian telepon pun diangkat….

“Assalamu’alaikum, Dek. Baa kaba, Dek? Lai elok-elok se?”

“Wa’alaikumussalam. Ndak elok do, Pa. Hehe”, aku menjawab dengan candaan khas si Deni. “Pa, Adek mau ngomong”.

“Ya, ngomonglah…”

“Ternyata godaannya berat, Pa, untuk bertahan di sini butuh tenaga ekstra.. Dari kecil Adek terbiasa sekolah di tempat yang mendengar namanya aja orang-orang udah mengamini kualitasnya. Sekolah-sekolah Adek adalah sekolah-sekolah tenar dan diperebutkan banyak orang. Dicintai orangtua murid. Diakui. Dipuji. Dibanggakan. Dicita-citakan… Setiap Adek memberi tahu kelas apa yang adek duduki, orang-orang pasti bilang itu unggulan. Dicari-cari. Digadang-gadangkan. Decak kagum dimana-mana. Meski mereka ngga tau sebenarnya Adek selevel apa sih di kelas itu. Mau yang paling bodoh dan bandel di kelas juga tetap dilabel ‘unggul’.

Tapi, hari ini ini “sekolah” Adek di mata orang-orang nampaknya mengalami pergeseran makna. Bukan decak kagum lagi, tapi hanya koor “oooh..” atau yang sedikit baik hati akan mencari tau dengan bertanya, “Itu jurusan apa ya? Baru ya? Kok ngga pernah dengar?”. Bukan yang dicari-cari lagi. Bukan yang diperebutkan. Bukan yang bergengsi tinggi..“

“Siapa bilang nggak bergengsi??”, papa tidak setuju.

“IPB mungkin dikenal orang, Pa. Barangkali IPB bergengsi. Tapi jurusan Adek belum. Kita ngga bisa memungkiri fakta. IPB yang orang tau ya pertanian.. paling banter ya peternakan, kehutanan, hortikultura.. Lauk pauk dan sayuran. Ngga banyak yang tau kalau IPB juga ngurusin manusia. IPB punya Fakultas Ekologi Manusia, yang mata kuliah dan dosen-dosennya selalu menjadi favorit di kalangan internal dan berprestasi skala internasional. Mereka ngga tau, itu bukan salah mereka… Sebab, IPB memang ngga tenar di kalangan bimbel-bimbel. Lebih dari 70% mahasiswa IPB datangnya lewat jalur undangan, jadi memang IPB ngga terlalu diperbincangkan di luar sana, di kalangan lulusan SMA yang mau ikut SPMB..”

“Hmm,, terus?”, papa mengejar dengan pertanyaan lagi.

“Apa yang mau Adek sampaikan insyaAllah beda dari yang papa pikirkan. Adek baru tau kalau jurusan ini populer di Amerika sama Australia. Mereka populer tidak dalam waktu singkat. Butuh waktu satu dekade, satu abad, hingga berabad-abad… Adek hanya minta do’a dari papa sama mama, mohon do’akan supaya Adek kuat berjuang. Biarlah, biarkan jurusan Adek nggak dikenal orang sekarang. Bismillah, dengan izin Allah, Adek bertekad untuk ikut ambil bagian dalam proses memperkenalkan bidang keilmuan ini pada Indonesia dan dunia. Kalaupun ngga ada pijakan yang kuat untuk Adek saat ini, insyaAllah Adek yang akan membuatkan pijakan-pijakan baru untuk adik-adik penerus nanti. Ini tekad Adek, pa. Adek akan bertahan. Adek HARUS bertahan. Adek akan menjadi bagian dari sesuatu yang besar, InsyaAllah…. Biidznillah….”

Hari itu, pasangan ayah dan anak itupun larut dalam keharuan dan kesyukuran yang syahdu. Kenangan itu ngga pernah bisa aku lupakan sepanjang hayat…. Ketika aku bicara ‘azzam… ^_^

Hari-hari berikutnya aku lalui dengan perasaan yang jauh lebih ringan. Kalaupun ada yang “mempertanyakan” jurusanku, maka dengan sepenuh hati aku akan bercerita layaknya seorang pemasar handal pada mereka. Pemikiran ini juga dimiliki oleh teman-teman sejurusanku. Kami sepakat untuk “manaruko” lahan yang masih hijau ini bersama-sama. Kami akan menerabas gelapnya rimba dunia karir demi menggalang peluang-peluang masa depan. Kami percaya pada keunikan bidang kami dan kami berserah pada kehendak Ilahi.

Lalu apa yang akhirnya membuatku benar-benar jatuh cinta?

Dinamika dunia kampus. Itulah jawabnya. Di IPB ini, aku menemukan dunia yang siangnya kelas-kelas kuliah disesaki oleh mahasiswa yang menanti suntikan ilmu dari dosen, dan sore hingga malamnya koridor-koridor kampus dijejali oleh kelompok-kelompok mahasiswa yang berdiskusi atau rapat dengan penuh semangat. Setiap pekan, bahkan setiap hari, selalu saja ada event yang dimotori oleh mahasiswa. Direktorat Kemahasiswaan selalu sibuk mensponsori dan men-supervisi kegiatan mahasiswa. Publikasi acara kemahasiswaan memenuhi mading-mading, jalanan, dan dunia maya. Masuk hingga ke dalam kelas-kelas kuliah bahkan ke pintu-pintu rumah kami. Silih berganti. Mulai dari kumpul-kumpul diskusi sesama mahasiswa dengan anak-anak yang hidup di jalan, hingga seminar yang menghadirkan presiden berbagai generasi.

Siang hingga malam, kampus rakyat ini ramai oleh mahasiswa. Penampilan mereka sederhana saja, berbekal ransel, sepatu kets, pakaian yang bersahaja, dan dandanan yang sederhana… Datang dengan berjalan kaki dari rumah kost mereka di sekitar kampus menuju lingkaran-lingkaran forum yang mereka geluti. Tidak ada yang mencolok. Nothing special. Biasa-biasa saja. Namun, dari lingkaran-lingkaran sederhana itu, muncullah para pengusaha muda, para aktivis organisasi mahasiswa, para jawara PIMNAS, para duta untuk konferensi internasional, para peneliti ulung, para aktivis dakwah, para pecinta alam, para atlit, para relawan, para pemikir, para penulis, para jurnalis, para penyiar, para seniman, para sastrawan, dan segenap potensi lainnya yang tak terbendung gelombangnya…

MOTIVASI dan DAYA JUANG. Dua hal itu yang selalu dan selalu menjadi kualifikasi utama mahasiswa IPB. Karena kami terbiasa dipertanyakan, karena kami terbiasa di perantauan, dan karena kami terbiasa melihat kiri dan kanan… di sana ada teman-teman kami yang ternyata berjuang jauh lebih hebat dari apa yang sanggup kami bayangkan. Lantas, apa lagi yang membuat kami tinggal diam dan membiarkan diri ini ketinggalan?

Inilah landasan cinta itu, Sahabatku. Inilah yang menguatkan hatiku selalu. Ini juga yang menggerakkan hatiku untuk menuliskannya untukmu. Sekedar untuk berbagi sekelumit hal yang kusaksikan di sini. Arin yakin, dirimu di sana punya jauh lebih banyak dari apa yang mampu Arin bagi… Sahabatku yang baik, mohon berikan adik-adik kita informasi yang benar tentang dunia baru yang akan mereka tempuh. Berikan mereka pemahaman yang bijaksana mengenai jalan yang akan mereka pilih. Jangan bicara passing grade. Jangan bicara gengsi. Tapi bicara hati. Agar tidak menyesal nanti-nanti.. :)

Hmm,, long enough ya… padahal aku belum menjelaskan mata kuliah apa aja yang didalami di jurusanku, dan apa hubungannya jurusanku dengan booming-nya wacana dan implementasi program Pendidikan Karakter di Indonesia saat ini.. Plus, apa hubungannya kami dengan program nasional Posdaya. Mudah2an ada kesempatan lain, itupun kalau dirimu berkenan untuk membaca tulisan Arin lagi di sela waktu sibuk di sana.. Aku akan lebih senang lagi jika ada feedback dari tulisan ini.

Wabillahittaufiq, afwan jika ada khilaf ya. Stay green, tetaplah hijau, tetap jaga rasa ingin tahu dan kemauan belajar. Wassalamu’alaikum wr wb.

Bogor, 17 Mei 2012 11:00 am

NB: bacaan ini tidak mengandung unsur privasi, kok. Jadi feel free aja kalau mau mempersilahkan orang lain membacanya. [ArZ] J

SAPAAN SEDERHANA ARINA ZULIANY on July 23rd, 2012

Bagian 1

            Anatolia, kerajaan kecil yang berdiri sejak berabad-abad yang lalu di negeri Rawamena. Kecil-kecil berpengaruh, itulah sebutan yang tepat untuk kerajaan ini. Ya, meskipun kecil, Anatolia adalah salah satu kerajaan yang menempati kedudukan yang jauh lebih tinggi dibanding kerajaan-kerajaan lainnya. Baik dari segi ekonomi, militer, pengetahuan, ataupun kesejahteraannya. Anatolia adalah yang paling maju. Semua ini berkat kepemimpinan raja-rajanya yang pertama hingga yang sekarang memerintah. Mereka adalah raja-raja yang bijaksana dan sangat disegani oleh rakyatnya.

            Walaupun sedemikian makmurnya, Anatolia juga tidak luput dari permasalahan. Tidak jarang Anatolia dihinggapi masalah-masalah, mulai dari masalah kecil seperti penurunan ekonomi, harga barang yang dijual terlalu rendah, hingga masalah besar seperti pemberontak ataupun tantangan dari kerajaan lain. Kerajaan mana yang tidak iri melihat kemakmuran dan pengaruh dari kerajaan Anatolia? Tapi, Anatolia bukanlah kerajaan lemah. Raja-raja yang memimpin tidak akan tinggal diam dengan semua itu. Berbagai cara akan  dilakukan demi kesejahteraan rakyatnya. Bahkan raja akan langsung turun ke lokasi jika permasalahan tidak bisa diselesaikan oleh para wakilnya. Hal ini dilakukan terus-menerus dan telah menjadi tradisi sejak pemerintahan Raja Semus, dua generasi sebelum orde sekarang.

            Sekarang, Anatolia sudah mencapai puncak kejayaannya. Semua berkat jasa dari sang raja yang sedang memerintah, Alfonso yang Agung. Raja Alfonso sudah memerintah Anatolia selama puluhan tahun. Alfonso adalah orang yang cerdas dan ahli dalam berbagai ilmu beladiri bersenjata maupun tangan kosong. Maka, tidak jarang Raja Alfonso terjun langsung dalam peperangan dan memegang pimpinan tertinggi. Seringkali Raja Alfonso meraih kemenangan bagi Anatolia dan menaklukkan raja-raja yang menantangnya. Namun, dalam setiap peperangan, Alfonso tetap membiarkan kerajaan lawan yang telah ditaklukkannya bebas dari jajahan Anatolia. Menurutnya, wilayah kekuasaan Anatolia hari ini sudah lebih dari cukup. Sebab itulah Raja Alfonso menerima simpati dan disegani oleh raja-raja dari kerajaan besar lain.

            Beberapa hari yang lalu, Alfonso mengirim seorang panglimanya ke Kĕsanh. Tujuannya adalah untuk meminta perjanjian damai dengan raja Kĕsanh, Hamun. Kerajaan Kĕsanh adalah kerajaan yang dikenal dengan strategi perang dan pasukan elitnya, Mammoth1 perang. Kĕsanh juga satu-satunya kerajaan yang dekat dengan Anatolia dan belum memproklamirkan perdamaian dengan Anatolia. Hamun sendiri adalah seorang raja yang tegas dan berpendirian teguh. Selama ia memimpin kerajaan Kĕsanh sepeninggal ayahnya, Hamun belum pernah mengalami kekalahan berarti di medan perang.

            Sebuah kabar buruk sampai di telinga Alfonso pagi ini. Kabar itu tidak diragukan lagi kebenarannya. Bukti yang ada berupa jasad sang panglima yang kaku tanpa kepala semakin memperkuat perkiraan Alfonso. Hamun telah menolak perjanjian damai yang ditawarkan dan memenggal utusan Anatolia itu. Perbuatan Hamun ini sudah jelas kurang ajar sekaligus menjadi simbol tantangan kepada Anatolia. Dengan geram, Alfonso bangkit dari singgasananya. Emosinya bergejolak. Ia bertitah dengan suara mengguntur.

            “Sampaikan kepada rajamu, temui pasukanku di Padang Soneti besok pagi!”, suara Alfonso yang jelas sudah termakan usia lebih dari setengah abad itu menggema di seluruh penjuru ruangan. Dia berkata pada seorang penduduk Kĕsanh yang mengantar jenazah sang panglima.

            “Ba~ baik, Raja Alfonso”, orang itu gelagapan melihat emosi Alfonso yang terlihat begitu jelas di keriput wajahnya. Lalu ia segera pergi keluar setelah membungkuk di hadapan Alfonso, ia pun berlari menuju kereta kudanya. Segera pulang ke Kĕsanh mengabari rajanya yang zalim, Hamun.

***

Oleh: Hamzah Ar-Rayyan

Bersambung…

SAPAAN SEDERHANA ARINA ZULIANY on July 23rd, 2012

Jika engkau berjumpa dengan musafir itu

di perjalananmu menuju puncak

tolong sampaikan padanya

salam dariku.

Perempuan sederhana yang belajar untuk memahami dunia.

SAPAAN SEDERHANA ARINA ZULIANY on July 23rd, 2012

Butuh keberanian yang luar biasa untuk marah. Keberanian untuk menjadi opposant. Keberanian untuk berdiri menuntut di tengah persilangan pendapat.Tapi, bukankah amarah itu adalah selemah-lemahnya keberanian?

Sebijak-bijaknya keberanian adalah keberanian untuk mengendalikan amarah, bukan menisbikannya, apalagi menghanyut bersamanya.

***

Hari ini aku mimpi. Bunga tidur sederhana, sih. Tapi, kok rasa-rasanya makna yang tersirat begitu mendalam. Aku mimpi berada di suatu tempat yang asing, tapi di dalam mimpi itu aku bukanlah orang yang asing bagi lakon-lakonnya. Aku bekerja di tempat itu, bergaul, dan beraktivitas seperti sebuah rutinitas. Agaknya kami bekerja untuk seseorang yang hebat, hingga ia butuh banyak manajer. Aku salah satunya. Lalu, entah kenapa tiba-tiba ada anak bayi. Anak bayi yang kotor dan belum mandi. Lalu, aku memandangi anak bayi itu. Entah anak siapa. Aku masih punya banyak kerjaan. Aku hanya memandanginya. Ia menatapku, lucu. Tapi maaf, Dik, aku tak mau menyentuhmu. Tidak untuk saat ini. Lalu, aku mondar-mandir melewati anak bayi itu dari satu ruangan ke ruangan lain mengantarkan laporan yang entahlah laporan apa itu.

Kemudian aku berpapasan dengan seorang perempuan yang di alam sadar tidak aku kenal. Entah bagaimana, dalam mimpi itu aku benar-benar mengenalinya. Ia salah satu manajer juga, berpakaian rapi sama sepertiku. Ia menatapku, lalu beralih ke anak bayi tadi. Ia angkat bicara.

“Na, kenapa bayinya nggak kamu mandiin?”, ia memandangku. Mengintimidasi. Seperti tatapan orang yang selalu mencari-cari kesalahan orang lain. Menjijikkan.

“Ouwh, aku?”, aku pura-pura tidak merasa. Aku malas mengurusi anak orang.

*ini aku kenapa? Nggak biasanya aku jutek di dunia nyata.  

“Iya, kamu. Saya sedang sibuk, ada yang harus saya setor. Tolong kamu mandikan anak itu.”

Aku mendongkol. Siapa dia? Sok ngatur. Kita ini sama, lho.

“Ehem, saya juga sibuk. Kerjaan kita sama-sama menuntut kita untuk sibuk”, aku tandaskan.

Yang diajak bicara memutar bola matanya dan menghadapkan badan sepenuhnya padaku. Wajahnya memerah. Aku tahu, dia merasa direndahkan karena perintahnya aku tolak. Biarin, peduli apa?

“Kenapa nggak situ aja?”, aku mulai menyulut.

Wajahnya mengkal. Dia menarik napas. Tidak biasanya dia dipanggil dengan sapaan “situ” oleh rekan sekantornya.

“Beraninya kamu..???!!!”

Matanya benar-benar melotot sekarang. Melihat itu, akupun tak bisa mengendalikan diri. Aku menantang. Aku merasa menang. Aku bahagia menyulut marah perempuan sok hebat ini.

Tanpa disangka, ia mulai meracau mengomel-ngomel. Akupun ikut-ikutan menyemarakkan perang mulut ini. Rekan-rekan sekantor berdatangan. Bingung dengan luapan emosi dua perempuan dewasa yang belum menikah ini. Mereka berbisik-bisik, sebagian bergidik. Keadaan bergalau. Aku tak sadar lagi kalimat apa yang kuhujamkan ke dalam medan perseteruan ini. Akupun tak dapat mendengar apa yang disampaikan perempuan itu dengan lidah berbisanya. Aku menikmatinya. Marah yang tak pernah kulepaskan di dunia nyata. Tanpa tedeng aling-aling.

Ugh, benar. Aku jarang melepaskan marah yang keterlaluan begini di dunia nyata.

Tiba-tiba, bayi tadi menangis. Ya, bayi tak bersalah yang menjadi pangkal bala pertengkaran itu menangis. Di tengah-tengah kami. Aku tak bergeming. Aku membentaknya.

“DIAM..!!”, aku jengkel dengan suara tangisan yang memekakkan itu. Lalu, aku melanjutkan ocehanku yang entah apa aku juga tak paham.

Ini bukan diriku. Astaghfirullah.. Bangun, Rin. Ayo bangun!

Dalam kegalauan suasana mimpi itu, paradoks antara dunia nyata dan tak nyata, aku tiba-tiba merasa melayang. Terombang ambing. Aku marah. Membiarkan emosi menguasai hati dan pikiranku. Tapi, di sisi lain aku menyesal. Aku ini siapa?

Tiba-tiba, aku kembali ke hadapan perempuan tadi. Bayi itu masih merengek-rengek, memohon agar polusi suara ini hilang dari telinganya yang peka. Aku terpaku. Perempuan itu mulai melemah. Air mata menggelayut di ujung matanya. Aku telah melukai hatinya. Aku terlalu jahat. Dia terus menerus bicara. Ia meracau tentang masalah bayi, anak, kepedulian, integritas, kelapangan hati… Aneh. Dia tadi berkata keras, menghina, dan membentak-bentak, tiba-tiba melunak dan tenggelam dalam tangis. Terdengar perih.

Aku pun tiba-tiba merasa aneh, ada perasaan sendu yang mengalir. Aku merasa bersalah. Aku merasa malu telah kalah dengan emosi negatif dan nafsu amarahku sendiri. Aku merasa sakit. Sakit karena kata-kataku sendiri, karena kekhilafanku sendiri, karena luka yang kutorehkan sendiri di hati perempuan ini. Mendadak, adegan aneh pun terjadi. Di tengah pertengkaran dan adu mulut yang seru, tiba-tiba aku mendekat. Berlari menyerbu ke arah perempuan itu. Aku kira aku akan menerjangnya, sungguh. Aku kira aku akan membunuh atau mencekiknya. Tapi tidak, aku menghambur memeluknya. Erat dan kalap. Aku menangis. Aku tak kuat. Aku ini lemah.

“Kakak, maafkan aku karena telah lancang padamu…”, aku menangis sejadi-jadinya. Aku menggelayut di pundaknya.

Kurasakan dadanya naik turun. Napasnya tersengal dan ia pun menangis meraung-raung. Kesedihan dan keperihan terpapar jelas dari suaranya.

“Aku tak punya cukup keberanian untuk menjadi oposisi, Kak. Maafkan aku. Aku tak berani untuk marah, karena ternyata marah itu menyakitkan… bahkan untuk jiwaku sendiri…”

“Aku juga,, aku juga….. Maaf, Na.. Maaf…’’, ia terisak.

Mendadak aku tersengal. Tersengal hingga tak mampu bernapas. Aku tertekuk di atas lututku. Perempuan itu memelukku. Aku kehilangan nafasku. Lalu, tiba-tiba aku bangun. Bangun dari mimpi yang penuh makna. Aku kembali ke kemarku. Udara menguar mengisi paru-paruku lagi. Aku duduk. Termenung sesaat. Lalu, aku menangis. Ya, aku menangis…

Ternyata, marah itu memang menyakitkan. Sakitnya bahkan bisa melintasi dua dimensi. Dimensi alam bawah sadar hingga dimensi alam sadar. Aku bangun dengan tangis yang terisak-isak. Terbayang jika aku berlaku demikian di dunia nyata. Astaghfirullaah……. Na’udzubillahi min dzalik.

Anger Full Throttle

SAPAAN SEDERHANA ARINA ZULIANY on May 29th, 2012

Hari ini, akhirnya kesampaian juga niatku mampir ke Pabuaran, setelah hampir setahun aku nggak mengunjungi Teh Dedeh dan adik-adik di sana. Aku mengenal Teh Dedeh dan A’ Usup tahun lalu, saat aku masih terlibat dalam Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-M) dengan tema Membingkai Sejarah dengan Kartu dan Film Pendek untuk meningkatkan jiwa nasionalisme anak-anak. Dusun Pabuaran ini lokasinya cukup jauh dari pusat kota, sangat jauh malah. Mungkin kalau kapan-kapan Anda sempat berkunjung ke sini, Anda akan terheran-heran.. ternyata ada tempat seperti itu di daerah yang disebut-sebut masih bagian dari Bogor yang konon dilabel sebagai bagian dari kota Megapolitan ini. Yah, begitulah. Kami tidak menemukan mereka, tapi merekalah yang “mencuri” hati kami saat pertama kali survei ke dusun yang penuh tawa dan senyum itu..

 

Setelah setahun ngga ketemu, rasanya kangeeenn sangat dengan kehangatannya. ^_^

 

Hijaunya hamparan sawah dan ladang menjadi daya tarik luar biasa. Beruntung bisa ngambil gambar pagi-pagi ba’da sholat Shubuh. Morning glory over Dusun Pabuaran. Yeiy!

 

After Shubuh...

 

Ada juga mata air Sirah, andalan masyarakat sini untuk memperoleh air bersih.. Abis sholat shubuh mengunjungi mata air ini.. hm,, sensasinya dahsyat! Adeeeeemmmmm….

 

Tempat mandi para bidadari. Yipppyyy...!

 

Kedinginan abis mandi di mata air Sirah, saatnya menghangatkan diri sambil masak aer buat minum.. Orang sini menyebutnya Hau’ alias tungku. Hangat hangaaatt…

 

Hau (dibaca: Ha-wu-')

 

Hmm, suasana kayak gitu bikin aku inget masa-masa KKP (Kuliah Kerja Profesi) di Dataran Tinggi Dieng, tepatnya di Desa Giritirta, Kec. Pejawaran. Mudah-mudahan ada kesempatan, nanti kita cerita tentang itu di bab khusus. Hehe..

 

Selama aku di Pabuaran ini, Teh Dedeh nggak habis-habis nyeritain betapa rindunya mereka padaku (Huahaha, ge-er tingkat dewa lah saia jadinya). Teh Dedeh bilang, sejak kami merintis gerakan pemberdayaan di sana, jadi banyak mahasiswa yang berkunjung dan ikut mengadakan program lainnya. Tapi, ehem, kata Teh Dedeh nggak ada yang kayak akuu dan tim PKM HC.. Hehe, ya iyalah, kami kan ajaibbbb. (maksud Teh Dedeh nggak ada yang menandingi kes-sarap-an kami kali yah? #mikirkeras)

 

Cukup cukup cukup, Rin. Jangan menjadi semakin narsis. Cukup. Hehehe…

 

Teh Dedeh dan A’ Usup suaminya mengabdikan diri untuk Islam. “Mengabdi” di sini maksudnya benar-benar mendedikasikan diri untuk dakwah secara kaffah. Mereka hidup sangat sederhana dan tawadhu’, dan kegiatan sehari-harinya adalah berdakwah. Teh Dedeh dan A’ Usup mengajar anak-anak di sekitar rumahnya mengaji, meski tanpa kelas. Teras rumah Teh Dedeh direlakan untuk menjadi ruangan kelas. Dindingnya berhiaskan sawah dan ladang, bertadahkan langit.. Pagi-siang-sore-malam mereka mengajar anak-anak yang datang silih berganti. Subhanallah ya, mereka selalu bisa berlapang-lapang bahkan di kondisi tersempit yang bisa kita bayangkan. Mereka ngga punya uang. Bukan “ngga punya uang”-nya orang pelit ya, tapi terkadang benar-benar ngga punya uang sepeser pun.. Tapi sungguh Allah Maha Adil, mereka tidak pernah kekurangan.. Setiap hari selalu ada saja rizqi untuk mereka makan, yang dititipkan Allah melalui tangan-tangan dermawan….

 

A' Usup

Teh Dedeh

 

Anak-anak di sini pintar-pintar lho, tapi umumnya selepas SD mereka tidak melanjutkan ke SMP. Masalahnya beragam, mulai dari kekurangan dana hingga perkara akses yang terlalu jauh dari Sekolah Menengah. Sehingga, adik-adikku yang cantik ini terpaksa harus tinggal di rumah dan membantu ibunya alih-alih sekolah seperti yang lain. Padahal, aku ingat tahun lalu ketika mereka masih kelas 6 SD, dan akan mengikuti Ujian Nasional.. aku ingat mereka menangis bersamaku dalam renungan motivasi yang kuberikan. Saat ditanya apakah mereka ingin melanjutkan sekolah ke SMP? Saat itu mereka sepakat menjawab “YA”. Tapi kemaren, setelah setahun tak bertemu, saat kutanya “bagaimana sekolahnya?”, mereka menjawab dengan diam dan menunduk. Seketika aku tahu makna jawaban nonverbal mereka itu. Hatiku menangis. Mengutuki diri yang juga tak mampu berbuat apa-apa. Sabarlah dik sayang, kesempatan masih terbuka lebar untukmu.

 

Mengendapkan Cita Demi Membantu Orangtua

 

Sehari semalam di sana membuatku bisa melepaskan beban mental tugas akhir untuk sesaat.. Melebur dalam kekaguman terhadap ciptaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang Maha Indah.. Sambil belajar ilmu agama langsung dari Ustadz dan Ustadzah yang begitu tawadhu’.. Hmm,, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan? (berkali-kali, dalam QS. Ar-Rahmaan)

 

Hamparan hijau yang menyejukkan hati

Tempat itu,

selalu bisa membuatku merindu,

di antara dedaunan dan pepohonan,

yang tak hanya ditingkahi oleh suara binatang malam.

Tempat itu,

selalu bisa menarik hatiku tuk merenung,

di sela derai tawa dan merdu tilawah,

ada ikhlas dan ridho yang melimbak-limbak.

_ArZ, Pabuaran 2012

Allahu Akbar

Mari menggapai mentari, genggamlah tanganku. Salam dari dusun. :)

Perempuan Sederhana yang Sedang Belajar Memahami Dunia dan Belajar untuk Berbicara pada Dunia.

 

 

SAPAAN SEDERHANA ARINA ZULIANY on May 28th, 2012

Perjuangan itu tak akan pernah ada habisnya. Begitu banyak gelombang euphoria dan ekstrapolasi dari setiap sendi perjalanan ini. Namun, memang tak dapat dipungkiri bahwa kehidupan tak selalu memberikan senyuman pada setiap relungnya. Terkadang kitalah yang harus menambahkan senyuman tersebut walau kenyataan begitu mengingini tangisan kita. Dalam keadaan yang benar-benar berkecamuk, dari dalam dan dari luar, begitu kita ingin semua ini segera selesai. Sedikit kehilangan kontrol atas setir yang kita pegang sendiri, sedikit terguncang di atas aspal panas yang kita jejaki saat ini, yang arahnya menuju kepada masa depan yang gemilang. Terkadang hal seperti ini menggerogoti semangat kita yang menggebu untuk maju. Sadarilah, bahwa kitalah sang pemegang kendali. Kita harus fokus pada tujuan, alih-alih fokus pada masalah.

 

Saya pun pernah terjebak dalam situasi penuh konflik dengan diri sendiri. Namun, di titik nadirnya, secara kebetulan, saya dipinjami sebuah buku oleh seorang saudara yang baik hatinya. Buku tersebut berjudul Mencari Pahlawan Indonesia karangan Anis Matta. Kata-katanya begitu lugas bertenaga, padat makna dan perenungan. Membaca buku tersebut, membuat saya paham jalan pikiran orang-orang yang berjuang tanpa kenal lelah, memikirkan masalah yang jauh dari dirinya sendiri, memikirkan masyarakat, memikirkan Indonesia, memikirkan peradaban dunia. Tulisan itu berusaha mengatakan bahwa tidak ada peradaban yang akan selamat dari kepunahan bila generasi mudanya begitu skeptis dan tak peduli. Kata-katanya menggambarkan keprihatinan mandalam akan nasib negeri ini bila tidak ada lagi pahlawan yang rela hadir dan datang untuk menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan besar perdaban. Dan pahlawan itu benar-benar tidak akan hadir, bila kita tidak lekas sadar. Karena sang pahlawan itu adalah KITA. DIRI KITA SENDIRI.

 

Mirisnya, terkadang kita terlalu sibuk memikirkan masalah sepele dan menjadikan sang pahlawan menjadi melakolistis. Malu bila mengambil langkah yang penuh risiko, enggan untuk membuat terobosan, cenderung nyaman dengan terus berada di zona aman, terlalu takut melanggar konsensus…. Persis golongan tua yang anti inovasi.

 

Namun, poin pentingnya yang saya simak dari buku tersebut adalah buku itu ditulis untuk para lelaki. Buku itu menunjuk pada para pria.. Bukan perempuan. Perempuan diposisikan sebagai pendamping setia bagi sang pahlawan. Perempuan adalah sumber tenaga tak terhingga bagi laki-laki. Hmm.. Mungkin itu kesan yang muncul bila kita lihat sekilas, Saudara-saudara…

 

Adalah penting untuk kita sadari bahwa perempuan juga layak untuk menjadi seorang pahlawan. Dan di buku tersebut, perempuan yang baik justru menjadi pahlawan bagi seorang pahlawan. Dialah sumber energi kepahlawanan itu, dialah pencetak pahlawan itu. Dalam memahami buku tersebut saya pun tergelitik untuk ikut mendeklarasikan diri menjadi salah satu orang yang dicari dan dirindukan peradaban dunia. Perempuan bisa menambah pengetahuan dan pengalamannya terus, sehingga membentuk kematangan dan kedewasaan emosi yang baik serta berbekal ilmu yang berkah untuk dapat digunakan untuk mendidik para calon pahlawan nantinya. Untuk mencapai hal tersebut, tentunya perempuan harus melewati fase-fase penuh tantangan dan pembelajaran, bukannya dengan diam menanti takdir yang datang. Kemudian masih tetap enggan melahirkan dan mendidik pahlawan. Karena dirinya sendiri saja masih belum cukup matang untuk menyadari bahwa dirinya adalah seorang pahlawan dan bahkan darinya jualah para pahlawan berasal. Untuk itu, wahai saudari-saudariku, taklukkanlah tantangan dimana itu tampak mustahil bahkan bagi seorang laki-laki. Taklukkanlah tantangan itu dengan anggun, petiklah ilmunya, simpan untuk bekalmu nanti. Perempuan harus berani, agar dia dapat menularkan keberanian itu kepada perempuan lainnya, dan pada saatnya nanti dia akan menularkan keberanian itu pada anak laki-lakinya.

Perempuan dengan gelar doktor atau profesor, misalnya, bukanlah sebuah larangan. Bayangkan bila anak Saudari nanti mendapatkan didikan pertama di masa emasnya langsung dari seorang doktor atau profesor…

Bagi para laki-laki dan perempuan, jadilah pahlawan sejati. Tumpahkanlah semua potensimu di koridornya masing-masing. Seorang pahlawan selalu bisa berdiri tegak ditengah badai yang berkecamuk, selalu tampak santai dalam kesibukannya, selalu tersenyum di tengah kesedihannya, dan selalu mampu menenangkan hati saudaranya bahkan ketika hatinya galau…

Tidak ada pahlawan yang meminta dirinya diakui sebagai seorang pahlawan…
Namun, yang dapat kita lakukan adalah mengadopsi
kisah-kisah kepahlawanan, dan melakukan yang terbaik tanpa mengharapkan pengakuan dan imbalan. Karena itulah esensi pahlawan sejati.Nah, Saudara dan Saudariku yang dicintai Allah, siapa yang mau jadi PAHLAWAN SEJATI? :) 😀
by: Arina Zuliany, bukan siapa-siapa.

SAPAAN SEDERHANA ARINA ZULIANY on June 19th, 2010
Kita baru saja memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-15 pada 29 Juni lalu di Jambi. Peringatan Harganas kali ini menjadi penting dan memunculkan pertanyaan di hati kita tentang bagaimana kondisi keluarga Indonesia kini? Kita sangat menyadari keluarga adalah pilar bangsa. Ungkapan ini mengandung makna betapa sentralnya peran keluarga dalam pembentukan karakter bangsa. Semua kepribadian dan karakter anak-anak negeri ini terbangun dari pola keluarga sebagai unit pendidikan pertama yang memberikan dasar-dasar kepribadian seperti kejujuran, solidaritas, kecerdasan, dan karakter positif lainya. Keluarga inti yang terdiri dari ayah,ibu dan anak adalah kumpulan sosial terkecil yang mampu dan menjadi faktor penting dalam memberikan warna perjalanan bangsa di masa yang akan datang.

Namun hari ini, kita melihat beragam kemuraman yang menyelimuti keluarga Indonesia. Tengoklah beragam kasus keluarga merebak luas mulai dari fenomena broken home, aksi pembunuhan antar anggota keluarga, penggunaan narkoba di kalangan pelajar dan mahasiswa, kekerasan pelajar dan lainnya. Kita patut bertanya apakah masih ada peran keluarga dalam menanggulangi krisis sosial ini? Apakah keluarga tak lagi seharmonis dulu, sehingga melahirkan beragam keprihatinan ini?

Peran Pemerintah
Berkurangnya ketahanan keluarga belakangan ini tidak luput dari kurangnya perhatian pemerintah dalam mengedukasi dan mendorong optimalisasi masyarakat untuk mewujudkan keluarga sehat. Peran pemerintah, dalam hal ini Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) yang terlihat belum mampu mewujudkan sebuah tatanan dan model keluarga sehat dan sejahtera secara aplikatif. Sehingga target BKKBN selama ini juga amat kuantitatif dan belum menyentuh kepada akar permasalahan yakni bagaimana menciptakan ketahanan keluarga sehat dan sejahtera secara utuh.

Sebagai lembaga yang diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi penguatan ketahanan keluarga, BKKBN seharusnya mampu membuat cetak biru keluarga di Indonesia. Sehingga kita dapat melihat dan mengukur berapa banyak populasi keluarga yang telah mandiri baik secara mental maupun materi, yang tentunya tidak hanya sekedar dilihat dari jumlah anak yang dimilikinya. Ini penting mengingat masalah ketahanan keluarga tidak hanya dikarenakan jumlah anak yang dimiliki saja, tapi lebih jauh dari itu adalah bagaimana orang tua berperan dalam mengasuh, membina dan mendidik anggota keluarga secara optimal.

BKKBN selama ini juga diakui telah memiliki serangkaian program ketahanan dan pemberdayaan keluarga. Namun titik tekan dari program ini hanya pada ketahanan dan pemberdayaan ekonomi, kurang menyentuh pada aspek-aspek yang memfasilitasi dalam pembentkan keluarga yang berkarakter. Bisa jadi kondisi ini dikarenakan adanya banyak institusi yang menangani keluarga namun miskin koordinasi dan berkomunikasi.

Pada saat yang sama, BKKBN mengalami beragam kendala seiring dengan perubahan sosial politik dalam negeri, diantaranya perubahan dari pola sentralisasi menjadi desentralisasi dimana Pemerintah Kabupaten dan Kota kini diberi kewenangan dalam menjalankan program Keluarga Berencana (KB). Sehingga keberhasilan program ketahanan keluarga sangat bergantung sejauh mana komitmen Kepala Daerah dan DPRD bersangkutan dalam melaksanakan program ini. Jika Bupati, Walikota dan legislatif daerah tidak menjalankan program ketahanan keluarga ini sebagai priorotas, maka tugas BKKBN boleh jadi hanya tinggal cerita.

Keluarga Sehat
Selain itu faktor yang menyebabkan memudarnya ketahanan keluarga adalah melemahnya nilai-nilai keteladanan dan moralitas.. Faktor ini menyebabkan suasana keluarga tidak memberikan harapan positif bagi perilaku anggota keluarga. Faktor keteladanan dan moralitas ini menjadi penting karena faktanya meski sebuah keluarga secara ekonomi cukup mampu namun perilaku kehidupan anggota keluarganya ada yang mengalami disharmoni sosial yang akut. Begitu pula perubahan pola hidup, serbuan globalisasi dan efek media massa telah turut andil memperlemah ketahanan keluarga saat ini.

Berbicara ketahanan keluarga tentu tak luput dari peranan keluarga yang sehat dan produktif. Sehat tentunya tak hanya dalam hal terpenuhinya kebutuhan ekonomi secara cukup namun lebih dari sekedar itu. Keluarga sehat adalah gambaran ideal dimana semua anggota unit keluarga mampu memberikan pengaruh positif baik ke dalam keluarga sendiri maupun lingkungan sekitar. Dalam ajaran agama kita mengenal slogan ”baiti jannati” sebagai refleksi betapa rumah harus dijadikan arena positif untuk menumbuhkembangkan dan penyalurkan potensi setiap anggota keluarga. Interaksi keluarga dikelola sehingga melahirkan manajemen solidaritas yang kokoh sehingga mampu mengikis benih-benih keretakan keluarga.

Tentu tidak mudah membentuk profil keluarga sehat seperti ini ditengah kondisi sosial dan tekanan ekonomi yang luar biasa. Karakter keluarga sehat setidaknya dapat diwujudkan melalui interaksi keteladanan, kepercayaaan an komunikasi yang baik didalam maupun diluar lingkungan keluarga itu. Intinya, keluarga ini mampu eksis dan memberikan pengaruh timbal balik bagi pembentukan karakter ideal anggota keluarga dan lingkungannya. Agama juga mengajarkan kita untuk menjadikan profil keluarga sebagai unit sosial yang dapat bermanfaat bagi anggota keluarga dan orang lain sehingga akan memunculkan wibawa dan peran keluarga dalam tatanan sosial masyarakat. Jika profil keluarga ideal ini diwujudkan oleh keluarga-keluarga inti maka fenomena penyakit sosial yang nampak di Indonesia sangat mungkin akan berkurang.

Solusi Penguatan Kelurga
Kesadaran akan pentingnya keluarga sehat dan produktif menuntun kita untuk melakukan langkah-langkah strategis guna mewujudkan cita-cita mulia tersebut. Pertama, pemerintah harus melakukan reorientasi pembangunan keluarga dengan memperjelas cetak biru profil keluarga Indonesia sehat dan produktif, yang memperhatikan keseimbangan antara faktor religiusitas, mental ekonomi dan sosial. Sekali lagi hal ini menjadi penting karena rentannya disharmoni keluarga Indonesia tidak semata-mata disebabkan faktor ekonomi tetapi akibat dari problem-problem yang sangat kompleks.

Kedua, memperjelas pembagian tugas, wewenang dan fungsi lembaga-lembaga terkait yang muara programnya pada pembangunan keluarga. Setiap lembaga boleh saja memiliki program, anggaran dan personal, namun yang tidak kalah penting adalah koordinasi antar lembaga tersebut, karenanya diperlukan penunjukkan salah satu lembaga sebagai koordinator untuk mengkoordinasikan program ini agar tidak terjadi tumpang tindih maupun saling lepas tangan dalam pelaksanaannyat.

Ketiga, melakukan penguatan otonomi daerah dengan meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan sumber daya lainnya sehingga diharapkan pelaksanaan otonomi daerah semakin berkualitas yang dilandasi pemahaman yang lebih komprehensif dan substantif tentang makna otonomi daerah. Pada saat yang sama pemerintah Pusat dituntut untuk bisa meyakinkan pada pemerintah Daerah bahwa program ketahanan dan pemberdayaan keluarga adalah investasi jangka panjang yang strategis dan bernilai bagi kesejahteraan masyarakat di daerahnya. Kita berharap solusi penguatan ketahanan keluarga ini menjadi isu nasional sehingga semua pihak mampu terlibat secara dinamis dan konstruktif sebagai upaya mewujudkan keluarga Indonesia yang lebih berkulitas dan maju. Keluarga yang penuh dengan kasih sayang, solidaritas, produktif dan religius ini diharapkan mampu menangkal problem akut institusi keluarga sehingga dapat membawa bangsa ini ke arah yang lebih baik.

Sumber : Harian Terbit, Kamis 17 Juli 2008
SAPAAN SEDERHANA ARINA ZULIANY on June 19th, 2010

ILMU KELUARGA DAN KONSUMEN

Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen (IKK) merupakan salah satu departemen baru di IPB yang berkembang dari Departemen Gizi Masyarakat dan Sumberdaya Keluarga (GMSK). Lingkup kajian Departemen IKK meliputi aspek keluarga beserta anggotanya dan segala perilakunya dalam mengelola sumberdaya untuk mencapai tingkat kesejahteraan yang diinginkannya.

Keluarga memegang peranan yang sangat penting dalam pembangunan kualitas sumberdaya manusia.  Praktek pengasuhan anak pada usia dini sangat menentukan perkembangan dan kualitas anak pada masa dewasa-nya.  Sebagai suatu unit ekonomi, keluarga melakukan berbagai fungsi, seperti alokasi sumberdaya, produksi barang dan jasa (market and non market commodities), distribusi produk antar anggota keluarga, dan konsumsi produk, untuk mencapai tingkat kesejahteraan. Dalam menjalankan fungsi tersebut, keluarga bertindak sebagai suatu unit produksi (produsen) sekaligus sebagai unit konsumsi (konsumen). Perilaku keluarga dalam upaya memaksimalkan kepuasan tentunya tidak lepas dari aspek manajemen sumberdaya dan perilaku konsumen.

Keluarga juga merupakan sebuah sistem yang berinteraksi secara terus menerus dengan lingkungan mikro dan makro, baik lingkungan fisik, sosial, ekonomi, sosial-budaya, teknologi, dan politik. Oleh karenanya, kajian keluarga memerlukan pendekatan inter-multi-disiplin. Pemahaman ilmu dan konsep dasar di bidang psikologi, sosiologi, komunikasi, ekonomi, manajemen, ekologi, dan seni menjadi penting dalam mengkaji keluarga dan perilaku-nya.

Dalam era globalisasi, peran keluarga menjadi sangat penting. Sebagai unit terkecil dari masyarakat yang me-megang peran strategis dalam pembangunan kualitas sumberdaya manusia, keluarga menghadapi tantangan yang besar dalam memelihara eksistensi dan menjalan-kan fungsinya untuk mencapai tingkat kehidupan yang lebih baik. Departemen IKK memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan tenaga sarjana yang mampu menjawab tantangan tersebut.

MANDAT

Pengembangan ilmu dan teknologi di bidang keluarga dan konsumen untuk mewujudkan kesejahteraan keluarga, dengan memfokuskan pada pengembangan kualitas anak serta pemberdayaan keluarga dan konsumen

MAYOR S1

Ilmu Keluarga dan Konsumen

MINOR S1

1.    Ketahanan Keluarga
2.    Perkembangan Anak
3.    Ilmu Konsumen

KOMPETENSI LULUSAN

Lulusan S1 Major IKK memiliki kompetensi dalam:

  1. Memahami teori keluarga, tumbuh kembang anak, serta ekonomi keluarga dan konsumen dalam mewujudkan kesejahteraan keluarga.
  2. Menganalisis upaya pemberdayaan keluarga dan konsumen, serta upaya peningkatan kualitas anak dalam mewujudkan kesejahteraan keluarga.
  3. Menerapkan kemampuan teknis dan manajerial dalam menyusun dan melaksanakan upaya peningkatan kualitas anak, kesejahteraan keluarga dan pemberdayaan konsumen.
  4. Konsultan di bidang: keluarga, tumbuh kembang anak, dan konsumen (seperti di LSM nasional maupun internasional; Plan International, Care, YLKI, UNICEF, dll)
  5. Pendidik dan pengelola pendidikan anak usia dini dan usia sekolah (seperti TK, sentra-sentra pendidikan anak usia dini/PAUD, Indonesia Heritage Foundation/IHF).
  6. Penelitia dan PNS di bidang keluarga, tumbuh kembang anak, dan konsumen (seperti di Meneg PP, BKKBN Depsos, Depkes, Depdagri).
  7. Tenaga akademik di bidang keluarga, tumbuh kembang anak, dan konsumen.
  8. Spesialis riset pemasaran dan konsumen, serta penanganan pelayanan konsumen.

PROSPEK KERJA LULUSAN

PRESTASI MAHASISWA

  • 3 tim PKM mahasiswa yang dibiayai Dikti ahun 2007
  • 3 tim PKM Pengabdian Masyarakat yang dibiayai Dikti tahun 2007
  • 1 tim Finalis IPB LKTM Bidang Sosial 2007
  • Anggota Tim Paduan Suara IPB
  • Anggota Tim Pendaki Putri Gunung Rinjani 2007, dll
  • Analisi keberfungsian keluarga
  • Interaksi dan komunikasi dalam keluarga
  • Transisi keluarga dan globalisasi
  • Analisis gender dalam keluarga
  • HUbngan inter dan antar keluarga: pembagian kerja, pengambilan keputusan
  • Koping strategi keluarga pada berbagai situasi
  • Pemberdayaan keluarga
  • Tumbuh kembang anak: permasalahan dan kendala
  • Kecerdasan kognitif dan prestasi akademik
  • Kecerdasan emosi anak
  • Pengasuhan
  • Stiulasi psikososial pada anak
  • Perilaku anti sosial anak
  • Emotion bonding ibu dan anak
  • Perkembangan karakter
  • Pendidikan yang patut dan menyenangkan bagi anak
  • Perkembangan anak dengan kebutuhan khusus
  • Sikap dan preferensi konsumen
  • Perilaku dan pengambilan keputusan konsumen
  • Perilaku penggunaan kartu kredit
  • Sosialisasi anak sebagai konsumen
  • Alokasi waktu dan pendapatan
  • Perilaku investasi pada anak
  • Kemiskinan dan kesejahteraan keluarga
  • Evaluasi ekonomi program peningkatan kesejahteraan keluarga
  • Evaluasi program pemasaran sosial
  • Ruang kuliah, seminar dan diskusi dilengkapi OHP dan LCD
  • Ruang baca
  • Ruang komputer dilengkapi akses internet
  • Lab. Keluarga
  • Lab. Tumbuh Kembang Anak
  • Lab. Pendidikan dan Perlindungan Konsumen
  • IPB – ISFA Educational Child Center/Sentra Pengembangan Anak IPB-ISFA (Indonesia Singapore Friendship Association)

TOPIK-TOPIK PENELITIAN

FASILITAS PERKULIAHAN

Dikutip dari: http://fema.ipb.ac.id/index.php/departemen/dep-ilmu-keluarga-dan-konsumen/